Monday Love Letter #28: Roller Coaster Adaptasi

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Kok kangen banget, ya? Padahal Senin kemarin kan kita surat-suratan. Hehe. Kamu apa kabar? Kabar saya Alhamdulillah baik. Menginjak minggu kedua tanpa sering-sering membuka Instagram kecuali kalau memang ada keperluan, ternyata menyenangkan dan menenangkan rasanya. And so, I’m addicted to be people of present who live my life at the moment. Kabar lainnya, selama beberapa minggu ke belakang ini juga saya sedang melakukan adaptasi besar-besaran terhadap perubahan-perubahan baik yang Allah hadirkan, salah satunya di ranah pekerjaan. Alhamdulillah. Tabarakallah.

Anyway, saya mau curhat-curhat panjang yaaa~

Saat ini, saya bekerja di sebuah startup yang bergerak di bidang anak dan parenting. Kata orang-orang di luar sana, kehidupan anak startup dekat dengan bekerja sambil haha hihi bahagia. Hal itu mungkin ada benarnya sebab sense of humor anak-anak startup biasanya memang lumayan tinggi. Tapi, tidak banyak yang tahu bahwa di balik semuanya, kehidupan di startup sangat dekat dengan ketidakpastian, perubahan-perubahan yang cepat dan mendesak, beban kerja dengan resiko tingkat tinggi, dan cerita-cerita gagal yang banyak terjadi. Semua itulah yang membuat atmosfer bekerja terasa seperti sedang naik roller coaster.

1_zkIW2r7d4MyhRpEJ-UsqIw
Picture source: Pinterest

Sebelumnya, saya berada di sebuah divisi dimana disana saya mengurus kurikulum, building up materi-materi supaya bisa ‘dikunyah’ dengan lebih menyenangkan oleh masyarakat juga turun ke lapangan. Di awal tahun 2019 ini, saya diamanahi untuk menjadi leader di divisi ini. Selayaknya leader, saya kemudian memetakan kemana divisi ini akan saya bawa dalam setahun ke depan dan bagaimana saya dan teman-teman di divisi ini bisa bertumbuh dan berdaya dari ruang kerja.

Tiba-tiba saja perubahan terjadi: divisi yang saya pegang dilebur ke divisi-divisi lain sehingga orang-orang di dalamnya mengalami perubahan pekerjaan. Termasuk saya yang saat ini jadi mengerjakan hal lain: melakukan analisis dari sudut pandang edukasi dan psikologi terhadap sebuah program dan produk online seperti website atau aplikasi. Saya jadi berpartner dengan programer, berkenalan dengan kosa kata baru di ranah IT, dan juga mengerjakan hal baru, yang, I might not know anything about it. Lalu bagaimana dengan plan yang pernah saya buat di awal tahun itu? Ah ya, I made a plan, but now everything was kinda gone.

Awalnya, saya sedih dan bingung. Dalam kondisi penuh dengan sampah emosi, (meski masih dengan nada yang stabil) saya pernah bilang pada atasan saya, “Pak, perubahan ini bukan yang pertama kali saya rasakan. Tapi rasanya semua ini sekarang sedang sangat membingungkan. Bapak meminta saya membuat perencanaan satu tahun ke depan lalu bapak mematahkannya bahkan ketika kita baru saja melewati 1 bulan pertama? Perubahan sistem ini, for some reasons, membuat saya merasa gagal padahal saya tidak menjadi penyebabnya.”

Setelah mengatakannya, saya menyesal. Haha. Kok menyesal? Bukankah itu hal yang boleh-boleh saja dikatakan dan memang berisi fakta? Iya, tapi saya menyesal karena … jangan-jangan kata-kata itu muncul karena saya kurang sabar terhadap keadaan, kurang memiliki jeda untuk memikirkan kebaikan dari perubahan atau kurang peka menangkap kebaikan yang sedang Allah hadirkan.

Keesokan harinya, saya mulai tenang. Saya berdoa kepada Allah,

“Ya Allah, aku tidak tahu bagaimana Engkau akan menumbuhkanku di ranah ini. Tapi jika memang ini baik, mudahkanlah aku untuk bersyukur dan menemukan kebaikan-kebaikan sehingga bertambahlah rasa syukurku itu.”

Apa yang terjadi setelahnya? Duar! Meletus balon hijau! Hati saya kacau karena ternyata masalah yang saat ini menjadi topik utama pekerjaan saya adalah kekerasan pada anak. Sebagai perempuan (dan insyaAllah calon ibu), saya enggak bisa enggak baper sama masalah ini 😦

Suatu hari, ketika sedang ingin menelisik permasalahan dengan lebih dalam lagi, saya iseng membuka jurnal-jurnal penelitian dan video-video berisi teknik intervensi untuk anak korban kekerasan atau anak yang melihat kekerasan terjadi di dalam rumah. Alih-alih menulis banyak hal sebagai temuan yang mungkin akan menjadi insight di pekerjaan, saya malah nangis! Ya Allah, why? Sedih sekali rasanya. Kalau bisa, ingin saya peluk satu-satu anak-anak itu sambil saya bisikkan di telinganya, “Kamu enggak salah, sayang. Kamu akan baik-baik saja.”

Saya diam dan berhenti sejenak sambil memikirkan, “Apa maksud Allah dengan semua ini?” Pertanyaan itu baru terjawab berhari-hari setelahnya (dan mungkin masih akan terus Allah hadirkan jawaban-jawaban lainnya). Atas seizin-Nya, saya menangkap beberapa hal yang semoga saya tidak sedang keliru mempersepsikan kebaikan Allah.

  • Pertama, saya merasa Allah sedang mengakselerasi kemampuan saya dalam beradaptasi, khususnya dengan hal-hal yang boleh jadi pada awalnya tidak saya sukai.
  • Kedua, saya merasa Allah sedang mendidik respon saya terhadap perubahan-perubahan yang tidak saya inginkan.
  • Ketiga, saya merasa Allah sedang mengganti atmosfer harian saya menjadi atmosfer analisa-analisa serius, dan boleh jadi ini adalah jawaban atas doa saya kepada Allah yang berharap ditunjukkan jalan persiapan untuk bisa sekolah lagi.
  • Keempat, saya juga merasa Allah sedang mengasah rasa empati saya terhadap anak-anak dan kasus-kasus psikologis lainnya, sebab inilah yang saya butuhkan di masa depan.

Entahlah, hanya Allah yang memiliki segala kepastian sementara saya hanya bisa menduga-duga. Wallahu’alam bishawab.

Semua ini rasanya memang benar-benar tidak mudah. Sesekali saya masih keceplosan untuk mengeluh dan bertanya-tanya, padahal saya tahu hal itu tidak seharusnya saya lakukan. Duh, dasar ya manusia! Lalu saya ingat satu hal, bahwa tak ada satu pun yang akan Allah hadirkan tanpa menakar terlebih dahulu kemampuan hambanya. Ah ya, semua yang dari Allah itu baik, pasti baik.

So, jika kamu juga sekarang sedang merasakan hal yang sama, keep looking at the sunny side of everything! Selalu ada sisi baik dari semua hal yang terjadi. Allah Maha Baik, dan akan selalu begitu.

Saling mendoakan ya, semoga Allah memudahkan kita untuk menjalani dengan baik segala hal yang menjadi ketetapan-Nya. Baarakallahu fiik. Peluk jauh dari Bandung :”)

Your sister of Deen,
Novie Ocktaviane Mufti

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s