Monday Love Letter #23: Prasangka Tentang Bahagia

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Bagaimana satu minggu ke belakang berlalu di hari-harimu? Mungkin ada tangis yang jatuh meski sekuat hati kamu menahannya, tak mengapa. Mungkin ada marah yang tersulut meski hanya karena hal-hal kecil, tak mengapa. Mungkin perasaan lelah membisik-bisik ke telingamu dan memintamu segera merebah, tak mengapa. Mungkin juga ada beberapa kejadian yang membuatmu kalah atas dirimu sendiri, itu juga tak mengapa. Segala kelemahan itu membuat kita tersadar lagi bahwa kita manusia biasa yang sedemikian lemah dan tidak berdayanya jika tanpa bantuan dan kehendak-Nya, bukan? Tak mengapa, biar semua rasa itu hadir, asal ia tak membawamu kemana-mana selain berpulang kepada-Nya dalam selaksa doa-doa penuh taubat.

Akhir pekan lalu, saya merasa sedang tidak baik-baik saja. Sebab takut dengan diri sendiri dan tersadar pada sebuah kebutuhan untuk berlindung kepada Allah dari diri sendiri, saya kemudian berdoa di penghujung shalat Maghrib. Doa itu, seperti sudah bisa ditebak, membawa saya pada tangis yang panjang. Saya takut sekaligus sedih teringat pada betapa “kurang ajarnya” sikap saya kepada Allah. Di akhir doa itu, tiba-tiba saja saya teringat pada sebuah buku yang sempat saya beli beberapa bulan lalu tapi belum sempat saya baca. Di dalam hati, saya pun berkata, “Ya Allah, tolong ajari aku sesuatu dari buku itu sehingga aku memahami sesuatu dan memperbaiki sikapku, baik itu terhadap-Mu ataupun terhadap diriku sendiri.”

Saya pun bergegas mengambil buku yang dimaksud. Buku itu ditulis oleh Hanum dan Rangga, sepasang anak-menantu dari sosok Amien Rais. Judulnya adalah I’m Sarahza. Apakah kamu pernah membacanya? Buku itu mengisahkan tentang perjuangan Hanum dan Rangga dalam menanti buah hati yang telah ditunggunya selama sekitar 11 tahun dengan segala macam perjuangan yang pernah mereka lalui di sepanjang waktu itu. Maa syaa Allah, cerita yang sarat akan dinamika perasaan saat berjuang itu ternyata dapat menjadi hikmah bagi siapa saja. Tak terkecuali bagi saya yang merasa ada pesan Allah dalam cerita-cerita yang sedang saya baca.

Diantara banyak bagian cerita yang tertuliskan di buku berwarna biru dongker itu, ada secuplik yang menggelitik hati saya. Suatu hari, selepas kegagalan program bayi tabungnya, Hanum dan Rangga menerima kabar bahwa buku 99 Cahaya di Langit Eropa yang telah selesai ditulisnya menjadi buku best seller yang dibaca oleh banyak orang, termasuk juga oleh siswa-siswa di berbagai lini pendidikan. Penjualannya laku keras. Tak hanya itu, buku tersebut juga akan dijadikan film layar lebar dimana mereka diminta menjadi penulis skenarionya. Sebagai penulis, saya bisa memahami bahwa berita itu adalah berita menggembirakan, yang boleh jadi menjadi mimpi besar bagi para penulis lainnya. Tapi kala itu, kabar membahagiakan itu tak cukup bisa menukar kesedihan Hanum. Sounds familiar? Saya merasa kisah itu sangat dekat dengan cerita hidup yang mungkin pernah atau sedang kita alami.

Kontan saya merasa sedih membaca bagian itu. Bukan karena ceritanya memang sedih, tapi lebih karena betapa malunya saya terhadap-Nya sebab Dia seolah sedang menunjukkan bahwa saya ternyata sedang hidup di tengah-tengah prasangka: saya menganggap nikmat-Nya tak cukup untuk membahagiakan saya. Padahal, jika dipandang dengan sudut berpikir yang lain, saya tentu tidak punya alasan untuk tidak bersyukur. Apa pasal? Pagi hari sebelum saya menyadari hal ini lewat buku yang sedang saya baca itu, seseorang menghubungi saya karena ingin membeli 100 eksemplar buku Menata Kala. Siangnya, grup buku Bertumbuh ramai karena salah satu dari kami mengabarkan bahwa buku kami sold out sehingga hari ini insyaAllah kami akan cetak ulang untuk kedua kalinya. Tidak hanya itu, beberapa hari sebelumnya, atasan saya menawarkan kesempatan belajar yang sangat besar bagi saya sekaligus menyediakan kesempatan untuk bertemu langsung dengan guru-gurunya.

Lalu Nov, kamu berani-beraninya menganggap semua itu tak cukup membahagiakanmu hanya karena secuil ujian yang sedang allah hadirkan?

Astaghfirullah!

Pembahasan ini sempat menjadi cerita dalam obrolan saya bersama kakak perempuan saya ketika kami sedang di perjalanan. Sambil menyusuri Bandung Timur di akhir pekan, saya refleks menyampaikan apa yang saya rasakan. Lalu, sambil sedikit bercanda, kakak perempuan saya itu menanggapi,

“Manusia emang suka gitu sih, ya. Nyari-nyari yang enggak ada, berprasangka terhadap yang belum nyata, tapi lupa bersyukur sama apa yang ada di depan mata.”

Saya diam, merasa bersalah sebab kalimat itu benar adanya. Ah yaaa, benar ternyata bahwa ujian kesedihan seringkali membuat kita lebih mudah untuk kembali kepada-Nya daripada ujian kesenangan. Saat sedih kita mudah mengadu kepada-Nya, tapi saat bahagia? Belum tentu kita mudah untuk mengingat-Nya, bukan? Dan yang lebih parahnya, betapa mudahnya kita berprasangka kepada-Nya seolah yang baik bagi kita hanyalah yang bahagia-bahagia saja, saat semua sesuai kehendak kita, saat yang kita mau datang pada waktunya, dan seterusnya.

Allah, ternyata sebegini lemahnya jiwa seorang manusia. Tanpa pertolongan-Mu, kami memang tak berdaya. Semoga Engkau berkenan mengampuni segala dosa dan merangkul kami kembali kepada jalan yang seharusnya. Dan lagi, semoga Engkau senantiasa membimbing, agar kami tak terpedaya oleh sedih ataupun bahagia.

Satu hari baru telah datang lagi, sister! Semoga kita tak lelah berupaya, untuk memperbaiki apa-apa yang masih berantakan di dalam diri dan hidup kita. Jangan lupa untuk saling bertukar doa, agar kita sama-sama dimampukan-Nya untuk menerima segala ketetapan yang ada, hingga menjadi hamba-Nya yang professional itu bukan sekedar angan belaka.

Your sister of Deen,
Novie Ocktaviane Mufti

Advertisements

One Reply to “Monday Love Letter #23: Prasangka Tentang Bahagia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s