Monday Love Letter #36: Start with Why

Kamu pernah enggak sih terdiam dan berhenti sejenak dari apa yang sedang kamu lakukan, selesaikan, atau perjuangkan saat ini lalu bertanya pada diri, “Aku tuh ngapain sih sebenarnya? Apa tujuanku melakukan semua ini?” Kalau belum, cobalah lebih peka terhadap hidupmu. Kalau sudah, it’s a good started, tapi pertanyaan selanjutnya adalah apa yang kemudian menjadi jawabanmu atas pertanyaan itu? Iya, apa yang selama ini menjadi tujuanmu dalam melakukan sesuatu?

Anyway, jika saya bercerita tentang sesuatu yang ingin saya lakukan kepada keluarga dan orang-orang terdekat, mereka seringkali mempertanyakan alasan. Mereka bertanya hal-hal yang sangat mendasar tentang misalnya mengapa saya menulis buku, mengapa saya ingin sekolah, mengapa saya ikut ini dan itu atau membuat ini dan itu, mengapa saya mau memperjuangkan ini dan itu, dan seterusnya. Awalnya saya kesal, “Apaan sih kok ribet amat?” apalagi kalau setelah pertanyaannya dijawab eh malah memunculkan anak-anak pertanyaan yang lain (biasanya ditanya terus sampai jelas kalau jawaban saya masih unclear, hmm~). Ibu bahkan pernah tegas mengatakan,

“Kalau di hadapan Ibu aja kamu enggak bisa jawab, gimana nanti kamu bisa mempertanggungjawabkan hal ini di hadapan Allah?”

Duh! Mau nangis rasanya~ Tapi sekarang saya sadar, cara itu mendidik saya untu berpikir kritis, tidak hanya ikut-ikutan dengan apa yang dilakukan orang lain, dan berani bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan atau diputuskan. Hal ini tentu menantang dan perlu banyak pembiasaan. Sejujurnya, sampai sekarang pun saya masih tertatih-tatih untuk belajar agar segala yang saya lakukan atau putuskan tujuannya jelas sejak awal.

Bicara tentang tujuan, pekan lalu saya belajar sesuatu dari sosok bernama Simon Sinek. Beliau menulis sebuah buku yang judulnya saya pakai untuk judul surat pagi ini, Start with Why. Saya belum baca bukunya (semoga nemu di BBW Bandung nanti, hihi), tapi saya mencoba memahami pemikirannya melalui startwithwhy.comdan video berjudul “How Great Leaders Inspire Action” di Ted.

“The why can guide us to act with purpose, on purpose.” begitulah kata Simon Sinek

Continue reading “Monday Love Letter #36: Start with Why”

Advertisements

Monday Love Letter #35: Harta yang Paling Berharga

Melihat judul surat ini, mungkin kalian akan terasosiasi dengan mengingat sebuah judul film yang baru-baru ini ramai diperbincangkan di kancah film nasional. Hmm, tapi enggak kok, saya tidak akan menceritakan tentang film itu (karena sebenarnya saya juga belum nonton, hihihi). Saya akan membicarakan tentang satu hal paling penting di hidup kita, which is itu adalah harta kita yang paling berharga. Apakah itu?

Sebelumnya, saya ingin mengutip dulu sebuah quotes yang beberapa tahun lalu saya temukan di dashboard biru dongker Tumblr,

“Jika teman-temanmu adalah para pencari harta, kemungkinan kamu akan melihat hidup melalui spektrum kekayaan. Jika teman-temanmu adalah para pencari ilmu, kemungkinan kamu akan melihat hidup melalui spektrum pengetahuan. Jika teman-temanmu adalah para pencari hikmah, kemungkinan kamu akan melihat hidup melalui spektrum kebijaksaan.” – Yasir Mukhtar

Hmm, diantara ketiga di atas, kamu (dan teman-temanmu) yang mana? Menurutmu, apa harta yang paling berharga dalam kehidupan seorang manusia? Apakah ia adalah tahta, keluarga, pekerjaan, ilmu, karya, atau … bisakah kamu menyebutkannya? Sebagian besar orang-orang di masyarakat kita, entah bagaimana, memang seringkali mengasosiasikan harta dengan sesuatu yang ternilai dan terlihat bentuknya. Dari sanalah kemudian muncul asumsi bahwa orang kaya adalah mereka yang punya banyak harta. Tapi, harta apa sebenarnya yang dimaksud?

Bicara soal harta yang paling berharga, saya pernah mendapat satu pelajaran berharga dari seorang sahabat. Di pertengahan Februari 2018 lalu, rumahnya yang berada di kawasan Ujung Berung Bandung tiba-tiba saja dihadang oleh banjir bandang. Tanggul yang berada di sekitar kawasan itu jebol sehingga airnya tumpah ke jalan dan merendam sebagian besar kawasan. Rumah sahabat saya itu berada di tempat yang landai sehingga tumpahlah semua air kesana. Rumah-rumah di sekitarnya hancur, beberapa orang meninggal dan anak-anak kecil pun mengalami trauma. Subhanallah.

Dua minggu kemudian setelah sahabat saya dan keluarganya mulai beraktivitas kembali seperti biasa, saya bertemu dengan mereka dan mendapat cerita secara langsung tentang kejadian banjir yang dialaminya itu. Beberapa kali saya menarik napas panjang, tak terbayangkan rasanya jika saya yang harus mengalami semua yang diceritakannya itu. Tapi, atas seizin Allah dimudahkan-Nya sahabat saya itu untuk menangkap dialog cinta dari Allah melalui segala yang dialaminya saat itu. Sahabat saya bilang,

“Dari kejadian ini aku jadi belajar bahwa harta yang dicari mati-matian, rumah, uang, emas dan segala yang biasanya jadi kilau dunia itu bisa menjadi tidak penting bahkan hanya dalam hitungan detik saja. Mobil-mobil bisa melayang seperti perahu kertas, rumah bisa hancur, keluarga bisa meninggal, ah … semua harta yang kita kira paling berharga ternyata bisa diambilnya kapan saja. Dalam kondisi bencana seperti kemarin itu, justru kita tuh hanya bisa bergantung sama Allah saja.”

Semua harta yang paling berharga ternyata bisa diambil-Nya kapan saja. Kalimat itu terus terngiang di kepala saya, membuat saya mengingat-ingat betapa berbeloknya fokus kita sebagai seorang manusia: mati-matian mencari yang tak dibawa mati. Disadari atau tidak, banyak hal membuat kita menjadi lupa pada apa yang sebenarnya akan menjadi bekal kehidupan setelah kematian.

Jadi, apa yang menjadi harta yang paling berharga bagi kita? Continue reading “Monday Love Letter #35: Harta yang Paling Berharga”

Apa Kabar?

Hi! Sudah akhir pekan. Kamu (terutama hatimu) apa kabar? Apapun yang sedang terjadi, semoga setiap hari kamu selalu belajar: belajar sabar, belajar syukur, dan belajar lapang menerima ketetapan. Kalau sahabat baikmu, apa kabar (hatinya)? Apakah kamu tahu apa yang saat ini sedang dihadapinya? Kapan terakhir kali kamu menghubunginya?

Mungkin banyak agenda harian, mungkin tidak ada waktu, mungkin prioritas berubah, mungkin sedang sibuk sendiri, mungkin (me)lupa, atau mungkin otot-otot peduli sudah lama belum diasah lagi, hingga sesederhana bertanya kabar menjadi barang mahal, tak terbeli. Padahal, sesederhana “Apa kabar?” bisa membuat perubahan yang berarti.

Kamu tidak pernah tahu. Sahabat baikmu di seberang sana barangkali sedang sedih karena sesuatu yang hilang atau pergi darinya, sedang kecewa karena sesuatu mengobrak-abrik hatinya, sedang marah karena merasa dunia tidak berpihak padanya, sedang lelah menapaki perjuangannya, sedang tidak punya teman bercerita, atau bahkan … sudah lama tak ada orang yang tulus menyapa perasaannya.

“Apa kabar?” adalah pertanyaan ajaib. Jika ditanyakan dengan tulus dan disampaikan dari hati, ia bisa membuat seseorang yang sedang hancur merasa utuh lagi, ia bisa membuat pikiran yang berantakan menjadi lebih terkendali, dan ia juga bisa membuat seseorang merasa berharga karena merasa ada yang peduli. Satu hal yang paling ekstrem, mungkin “Apa kabar?” darimu ternyata menggagalkan niat orang lain untuk membunuh semangatnya, membunuh mimpinya, atau bahkan membunuh dinya sendiri.

person holding head facing body of water
Photo by Burst on Pexels.com

“Ah, dia mah sekarang gitu. Sibuk banget sama dunianya, sekolahnya, karya-karyanya, keluarganya, mimpi-mimpinya, dan seterusnya, sampai enggak pernah tuh nyapa duluan dan bertanya apa kabar. Aku mau nyapa atau cerita duluan juga kan jadinya segan, merasa sudah beda frekuensi.” Oh, semoga kalimat penuh jurang itu tidak pernah keluar dari orang-orang terbaik dan terdekatmu.

Benar memang banyak hal sedang mengambil banyak porsi atensimu. Benar juga memang bahwa dinamika-dinamika keseharian sedang menguras waktu dan tenagamu. Tapi, tidak ada salahnya membagi peduli, bahkan hanya dengan bertanya “Apa kabar?” kepada mereka yang sudah terlalu lama tak pernah kamu ‘datangi’.

Layangkan sapaan dan bertanyalah dengan tulus, “Hi, apa kabar kamu hari ini? Kalau hatimu, apa kabar?” Semoga dengan begitu, ia bisa menjadi sebuah usaha untuk menyelamatkan, atau mungkin sekedar meringankan beban orang lain dan juga dirimu sendiri.

Monday Love Letter #34: Memerdekakan Perempuan (?)

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Pasti ada banyak berita dan cerita dalam keseharianmu sepekan kemarin. Good luck, untuk semua yang sedang kamu jalani, perjuangkan, dan menangkan. Satu yang menjadi pertanyaan: imanmu, masih aman, kan? Hmm, di surat kali ini, saya tidak ingin banyak basa-basi, tapi ingin mengajakmu memikirkan sesuatu yang lebih serius.

Sadarkah kamu bahwa saat ini kita sebagai seorang perempuan sedang diperangi oleh perang-perang yang tak kasat mata?

Dikutip dari Muhammad Hasan Abu Ahmad dalam pengantarnya untuk buku 35 Sirah Shahabiyah yang ditulis oleh Mahmud Al-Mishri, beliau menyampaikan bahwa musuh-musuh agama kita tahu dengan baik bahwa wanita muslimah merupakan salah satu unsur kekuatan masyarakat muslim. Oleh karena itu, mereka berusaha sekuat tenaga, sepanjang siang dan malam, untuk melumpuhkan pergerakannya. Wow! Ternyata, disadari atau tidak, kita sedang diperangi, ada yang sedang ingin melumpuhkan semangat kita. Mengerikan, bukan?

Hal ini mengingatkan saya tentang nasehat dari para orangtua dan senior saat kuliah dulu tentang 3F yang perlu diwaspadai, yaitu food, fun dan fashion. Ternyata, saat ini ketiga hal tadi semakin bertambah menjadi 7F, yaitu food (makanan), fun (kesenangan), fashion(pakaian), film (tayangan), free thinking (kebebasan berpikir), free sex (seks bebas), danfriction (tindakan yang menyulut perpecahan). Sadarkah kamu bahwa hal-hal seperti inilah yang menjadi perang-perang tak kasat mata yang saat ini sedang menyerang kita?

Berangkat dari fenomena tersebut, coba kita ingat-ingat kembali bagaimana kehidupan kita dan kebanyakan perempuan secara umum yang ada di sekitar kita. Bukankah banyak diantara kita yang sepanjang hari menghabiskan waktu di sosial media hanya demi tidak ketinggalan informasi terbaru tentang tokoh idola? Bukankah banyak diantara kita yang setiap bulan menghabiskan banyak uang untuk belanja online karena katanya itu adalah cara terbaik agar tak ketinggalan zaman? Bukankah banyak diantara kita yang berkoar-koar menyuarakan pendapat tentang sesuatu tapi hanya bertumpu pada kecerdasan logikanya saja tanpa berdasar pada landasan agama? Bukankah banyak diantara kita yang menjadikan seks bebas sebagai ajang untuk menyalurkan hasrat dan perasaan hingga luruhlah rasa malu yang seharusnya menjadi mahkota seorang perempuan? Bukankah Continue reading “Monday Love Letter #34: Memerdekakan Perempuan (?)”

Monday Love Letter #33: Hello, Brother!

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Hari ini, saya tidak ingin bertanya tentang kabarmu, sebab mungkin kabar perasaan kita sama, mengingat beberapa hari yang lalu saudara-saudara kita di New Zealand (NZ) menjadi korban aksi penembakan oleh Brenton Tarrant yang menewaskan 49 orang yang sedang shalat Jum’at di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood yang terletak di kota Christchurch. Soal sedihnya umat muslim di seluruh dunia akibat kejadian ini, rasanya tak perlu kita bahas lagi. Sebab, meski terluka, bukankah rasa gentar itu tak lagi ada? Lalu, apa hikmah yang akan kita gali dari kejadian ini?

Saat kejadian ini berlangsung dan ramai menjadi pemberitaan dunia, saya melihat unggahan Instagram Story milik seorang teman yang saat ini sedang berjuang merampungkan pendidikannya di NZ, ia mengatakan bahwa kejadian ini menjadi kejadian yang sangat memilukan bagi warga NZ karena tidak pernah sebelumnya kejadian seperti ini terjadi. Bahkan sebaliknya, menurut teman saya itu, disana ia merasakan keamanan yang menenangkan meski ia adalah seorang muslim. Selanjutnya, seolah menjadi bukti atas hal tersebut, ia menceritakan betapa warga NZ berbondong-bondong meletakkan bunga di sekitar kawasan kejadian penembakan, dan bahkan ada yang rela menjaga pintu mesjid demi menjaga warga muslim yang sedang shalat di dalamnya. Maa syaa Allah.

b78020462cb6045428bdc4fe9df209fe
Picture: Pinterest

Terlepas dari apapun yang telah terjadi, kejadian ini membuat saya terpikat pada manisnya akhlak sosok bernama Daoud Nabi, imigran asal Afganistan yang menjadi salah satu korban aksi penembakan. Lewat sebuah video, tertangkaplah sapaan penuh cinta dan kedamaian dari beliau kepada Brenton Tarrant saat hendak memasuki masjid, “Hello, brother!” Nyesss~ Betapa lembutnya beliau! Sapaan itu memang tidak membuat Brenton mengurungkan niatnya untuk menghujamkan peluru-peluru mematikan di hari itu, tapi melalui sapaan itu kita seolah kembali dibukakan mata dan hatinya untuk melihat bagaimana akhlak seorang muslim yang seharusnya, yang membahwa kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan bagi siapapun yang ada di dekatnya. Rahmatan lil ‘alamin, itulah yang pertama kali ada di pikiran saya ketika membaca cerita-cerita tentang sapaan kedamaian dari Daoud Nabi. Hal ini kemudian juga mengingatkan saya pada bagaimana saya merasakan Islam yang rahmatan lil ‘alamin itu terjadi di kehidupan saya. Continue reading “Monday Love Letter #33: Hello, Brother!”

Untukmu yang Beranjak Dewasa

Dek, tahukah kamu, menjadi seorang perempuan dewasa itu menantang. Banyak hal yang mungkin akan mengagetkanmu ketika tiba saatnya kamu beranjak dewasa.

Jika waktu kecil atau remaja dulu setiap pengambilan keputusan selalu bisa diambil alih orang lain, sekarang hal itu tak bisa lagi terjadi. Meski tak mudah, pengambilan keputusan, termasuk untuk hal-hal yang besar, adalah sesuatu yang mau tidak mau harus dilakukan. Suatu ketika, hal ini mungkin akan membuatmu bingung, sedih dan merasa tak pasti pada siapa harus bertanya dan bergantung. Jika hal itu terjadi, ingat dek, bahwa Allah tak akan pernah salah takar terhadap sesuatu yang perlu dihadapi oleh seorang manusia. Atas seizin-Nya telah jelas mana kebenaran dan mana kesalahan, dan rasanya itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi dasar pengambilan setiap keputusan.

3c55a4025721d4de2614be42f9ddc383
Picture: Pinterest

Dek, tahukah kamu, menjadi seorang perempuan dewasa berarti mempelajari banyak hal baru dan meninggalkan banyak hal yang tak lagi relevan. Dalam perjalananya, sebagaimana sesuatu yang niscaya, sebuah perubahan memang seringkali menyakitkan dan tak mudah untuk diterima.

Jika sewaktu kecil atau remaja dulu segala hal bisa dengan seenaknya kita lakukan karena perasaan dan suka atau tidak suka, sekarang suka tidak suka kita perlu berubah. Entah bagaimana, mendewasa nyatanya membuat kita tahu bahwa keduanya adalah sesuatu yang rapuh jika dijadikan landasan perilaku atau pengambilan keputusan. Jika sesuatu yang mendalam terjadi pada dirimu, boleh jadi sesekali langkahmu lunglai sebab terbawa arus-arus perasaan. Tapi dek, Allah tak akan pernah salah meletakkan seorang manusia pada sebuah kenyataan. Atas seizin-Nya telah jelas siapa diantara iman dan perasaan yang seharusnya menjadi imam dan siapa pula yang seharusnya menjadi makmum, dan itu rasanya lebih dari cukup untuk menjadi amunisi agar kita mampu bertahan.

Dek, tahukah kamu, menjadi seorang perempuan dewasa berarti meluaskan pandangan dan persepsimu tentang banyak hal, termasuk tentang dunia. Banyak hal akan membuatmu belajar, maka janganlah pernah berhenti untuk menjadi seorang pembelajar.

Jika sewaktu kecil atau remaja dulu kita mempersepsikan dunia sebagai tempat bermain dan ruang eksplorasi, kini definisi itu kian bertambah sebab kita telah sadar bahwa dunia adalah sebuah ruang kelas raksasa. Di dalamnya, kita belajar, beriman dan beramal, dan begitulah seterusnya hingga ilmu, iman dan amal adalah tiga serangkai dalam siklus besar yang tak akan pernah usai. Bagaimana pun, selayaknya sebuah kelas, dunia ini juga adalah tempat ujian. Kita diuji-Nya sedemikian rupa melalui apa saja agar kita kian mendewasa: jiwanya, imannya, amalnya, dan seterusnya. Tapi dek, apapun ujiannya, Allah tentu telah memberikan seluruh perbekalannya terlebih dahulu kepada kita, sebagaimana janji-Nya bahwa seorang manusia tidak akan diuji dengan sesuatu yang di luar batas kemampuannya. Atas seizin-Nya, kita akan dimampukan untuk menghadapi segala sesuatu yang ditimpakan-Nya kepada kita.

Bagaimana pun, menjadi dewasa berarti juga menanggung amanah-amanah pribadi. Dosa dan pahala kini menjadi tanggung jawab kita sendiri. Tahukah kamu apa yang akan membuat segalanya menjadi lebih ringan untuk dijalani? Bergantunglah pada-Nya dan jadilah sebaik-baik hamba, maka kamu akan tersadar bahwa dunia yang sebenarnya adalah tempat berjuang ini nyatanya sederhana, dan tempat istirahatmu adalah nanti, ketika kaki kanan dan kirimu menginjak syurga, tempat dimana semoga Allah mempertemukan kita disana selepas seluruh upaya terbaik kita untuk-Nya di dunia.

Monday Love Letter #32: Mentalmu Itu, Mental Driver atau Passenger?

Sepekan kemarin, apa hal yang paling berkesan bagimu? Kalau saya, Alhamdulillah akhirnya saya dapat surat izin mengemudi … dari Mama! Lah, memangnya Mama kerja di Polres? Bukan, maksudnya, akhirnya Mama mengizinkan saya nyetir setelah sekian lama dimarahi dan dilarang-larang terus. Hehe. Dapat SIM dari kepolisian somehow memang lebih mudah daripada dapat izin mengemudi dari Mama. Iya enggak? Kalau saya sih iya. Nah, pasca dapat “surat izin” maha penting dari Mama itu, sekarang saya mulai bawa kendaraan sendiri yang ternyata mengajari saya banyak hal yang insyaAllah akan saya tuliskan untukmu di surat ini. Apakah itu?

Sebelumnya, saat setiap hari menjadi penumpang. Saya merasa tidak perlu melakukan banyak hal dalam mode konsentrasi tingkat tinggi selama di perjalanan selain duduk di belakang kemudi. Tak ada hal penting yang harus saya kendalikan. Alhasil, saya bisa melakukan apa saja yang saya inginkan: membaca buku, main handphone, melamun, mengobservasi orang-orang di perjalanan, atau bahkan tidak melakukan apa-apa sampai akhirnya tertidur dan tahu-tahu saya sudah sampai di tempat tujuan. Sebagai seorang passenger, saya jadi terbiasa menyerahkan apapun yang terjadi di perjalanan tanpa merasa perlu untuk bertanggungjawab terhadap bagaimana kendaraan itu berjalan hingga sampai ke tujuan.

Hal yang sebaliknya terjadi saat saya memegang kemudi, menjadi driver untuk kendaraan yang saya bawa sendiri. Banyak yang perlu dilakukan, bahkan sebelum memulai perjalanan dimana saya perlu memastikan kendaraan saya mesinnya siap untuk diajak melaju. Saat di jalan, semua terasa lebih menantang. Saya harus memerhatikan kondisi jalanan dan kendaraan-kendaraan lain di sekitar agar jangan sampai menabrak, mengambil jalan orang lain atau melanggar rambu-rambu lalu lintas. Tidak hanya itu, saya juga perlu mengatur kecepatan, mengambil jarak aman, dan memberi tanda-tanda kepada pengendara lain jika saya akan belok kanan atau belok kiri. Saya yang tidak terbiasa menghafal jalan sekarang mau tidak mau harus menghafalkannya. Belum lagi kalau bensin habis, saya harus segera pergi ke pom bensin.

Life’s already changed, sis! Lalu, apa yang saya pelajari dari semua ini?

af76df88999308d7c56c4a5d4c2d4a5a
Picture: Pinterest

Saya teringat pada sebuah buku yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali. Buku yang sampai dengan saat ini belum saya tamatkan sampai ke halaman terakhirnya karena satu dan lain hal itu judulnya adalah Self Driving: Menjadi Driver atau Passenger? Dalam buku tersebut, Prof. Rhenald membahas 4 poin yang menjadi prinsip seorang driver. Apa sajakah itu? Continue reading “Monday Love Letter #32: Mentalmu Itu, Mental Driver atau Passenger?”

Tentang Tanya-Tanya di Hati Kita

a8719ed9d280108fc6537294fc20dd83
Picture: Pinterest

Ada banyak hal yang tak masuk akal di dunia ini, yang hanya bisa kita percaya jika kita menggunakan iman sebagai landasan untuk memahaminya. Sejak dulu sampai dengan saat ini, hal-hal seperti itu selalu ada; pun sejak dulu sampai dengan saat ini, iman selalu menjadi jawabannya. Maka, jika saat ini kita sedang mempertanyakan tentang ketetapan-Nya yang sepertinya tak logis dan tak masuk di akal, mungkin sudah saatnya logika-logika ditempatkan pada tempatnya, tanpa harus digunakan untuk menerka-nerka apa yang menjadi landasan atas keputusan-Nya.

Ada banyak hal yang tidak bisa kita terima pada hentakan pertama di dunia ini, yang hanya bisa kita terima setelah kita menghadirkan kesabaran-kesabaran sebanyak dan sebesar yang kita bisa. Sejak dulu sampai dengan saat ini, pendidikan sabar bagi kita memang tak pernah usai; pun sejak dulu sampai dengan saat ini Dia selalu Maha Tahu dengan cara apa pendidikan itu disampaikan-Nya kepada kita, seorang mahkluk yang papa dan banyak alpa. Maka, jika saat ini sesuatu yang datang, hilang, pergi atau terlewati itu adalah yang tidak bisa kita terima pada hentakan pertama, mungkin kita sedang diberi-Nya kesempatan untuk belajar lagi agar setidaknya sabar kita menjadi lebih baik setiap harinya.

Ada banyak hal yang terjadi meski tak kita suka di dunia ini, yang hanya bisa kita mengerti maksud-Nya setelah kita melewati berbagai jejak-jejak hikmah di sepanjang perjalanan yang telah disediakan-Nya. Sejak dulu sampai dengan saat ini, selalu ada yang tak sesuai antara mau kita sebagai manusia dengan apa yang terbaik menurut-Nya; pun sejak dulu sampai dengan saat ini, yang terbaik adalah selalu yang berasal dari-Nya dan kita tak punya kendali apa-apa atas segala keputusan-Nya. Maka, jika yang baru saja disuguhkan-Nya saat ini adalah apa-apa yang belum bisa kita sukai, bersabarlah dengan sabar yang terbaik. Sebab, tak ada satu pun yang diberi-Nya kepada seorang manusia melainkan itu pasti akan baik baginya.

Sudahlah, tak perlu merasa sendiri, pun berhentilah bersedih hati. Sebab, bagaimana pun, kamu tidak sendiri.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Menata Kala: Satu Hal yang Belum Kamu Tahu Tentang Menjadi Produktif

Kata orang-orang (terutama kata panitia-panitia yang mengundang saya untuk berbicara atau mengisi kelas tentang muslimah produktif), saya adalah seorang perempuan yang produktif. Kalau dibilang anggapan itu benar, sebenarnya tidak juga karena ada kondisi-kondisi dimana saya pun bermasalah dengan pengelolaan waktu. Kalau dibilang anggapan itu salah, ya sebenarnya tidak juga karena saat ini saya memang sedang men-challenge diri saya sendiri untuk bisa menjadi perempuan yang produktif di segala peran, terutama yang menyangkut peran-peran kehambaan. Sulit? Yaiyalah. Kalau gampang mah mungkin pembahasan time and self management tidak akan lagi menjadi topik yang “seksi” di kalangan anak muda masa kini.

Saya yakin, kalau kamu sampai niat untuk membaca tulisan ini, berarti kamu sama seperti saya yang sedang belajar untuk menjadi produktif. Tapi ternyata, ada satu hal menarik yang saya rasa belum kamu ketahui tentang the perks of being productive. Wah, apa tuh? Ternyata, berdasarkan pengalaman beberapa tahun ke belakang dan feedback yang saya terima beberapa hari lalu, sikap saya yang mencoba untuk selalu produktif ini bisa juga membuat orang lain gemas (sekaligus kesal), dalam pengertian negatif tentunya! Hehe. Lho, kok bisa? Gimana emang?

f0df67d8742e227a0e37086e88be8f27
Picture: Pinterest

Sebagai seorang karyawan di sebuah startup di Bandung, saya ini memang terbilang karyawan yang agak unik karena saya seringkali strict terhadap waktu. Begitulah ya istilah gampangnya. Waktu pertama kali “dipinang” untuk berkolaborasi dengan perusahaan sekitar 3 tahun lalu, saya dengan berani mengajukan syarat, saya bilang, “Punteun pak, ada satu kegiatan yang tidak bisa saya tinggalkan di salah satu hari di hari kerja jam 4 sore. Kalau bapak mengizinkan saya untuk tetap melakukannya, saya akan terima tawaran kolaborasi ini, tapi kalau bapak tidak mengizinkan, mohon maaf saya tidak bisa penuhi tawarannya.” Singkat cerita, perusahaan sepakat dengan pengajuan saya itu hingga sampai sekarang pun Alhamdulillah saya selalu diizinkan untuk pulang lebih cepat di salah satu hari diantara sepekan hari kerja.

Selain itu, saya ini tipe-tipe karyawan “teng-go” yang akan langsung pulang jika sudah waktunya pulang. Jarang sekali saya pulang terlambat atau sampai bermalam di kantor jika memang urusannya tidak penting-penting amat. Kalau pun saya harus mengerjakan urusan kantor sampai malam (atau bahkan tengah malam) karena misalnya menghandle kelas online atau lainnya, sebisa mungkin saya meminta agar kantor mengganti jam malam saya dengan pulang lebih cepat di esok harinya. Tidak hanya itu, saya juga jarang sekali membalas pesan atau e-mail di luar jam kerja, kecuali memang genting (seperti suatu hari ketika malam-malam ditelepon Ibu Elly Risman, serem juga kalau enggak diangkat kaaan~). Prinsip saya, urusan kantor ya urusan kantor, urusan luar kantor ya urusan luar kantor. Menjadi sekuler dalam hal ini penting juga ternyata!

Qadarullah, kantor saya menganut prinsip parenting yang kental hingga sebisa mungkin pekerjaan tidak mengganggu waktu keluarga para karyawannya jika sudah bukan waktunya bekerja. Tapi, namanya juga dinamika pekerjaan, prinsip itu ya pasti ada failednya juga, pasti ada sisi lainnya. Seperti ketika beberapa hari yang lalu saya tiba-tiba saja dapat feedback dari seorang teman, katanya, “Iya, aku tuh pernah sebel sama Novie meskipun sekarang urusannya ya udah selesai dan udah enggak sebel lagi, sih. Tapi aku sempet heran aja, ini bocah kok strict banget sih sama waktu kerja.”

Kyaaa! Kaget sekaligus ingin ketawa sih ketika mendengar feedback itu. Akhirnya, saya pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa harus se-strict itu, dan seterusnya. Kenapa emangnya? Okay, I will tell you, semoga kamu pun jadi dapat gambaran tentang sesuatu yang berkaitan dengan produktivitasmu. Continue reading “Menata Kala: Satu Hal yang Belum Kamu Tahu Tentang Menjadi Produktif”

Jangan Banyak Tanya, Sampaikan Saja Bahasa Cinta

Menjalani seumur hidup sampai dengan saat ini sebagai seorang perempuan ternyata tidak cukup membuat saya (atau mungkin kamu juga) menjadi expert dalam memahami sesama perempuan. Selalu saja ada sesuatu yang misterius, tidak mudah ditebak, dan mengundang banyak tanya. Dinamika inilah yang masih selalu menjadi keseruan dalam setiap interaksi saya dengan sesama perempuan yang “menitipkan” banyak cerita hidupnya kepada saya. Dalam beberapa kondisi, terutama saat arah obrolan sudah tak lagi mudah ditebak, saya pun jadi suka bertanya-tanya, “Tunggu, apa yang sebenarnya diinginkannya? Ini tuh gimana sih sebenarnya maksudnya?” dan seterusnya. Mau tidak mau, sebagai perempuan saya pun harus mengakui kalau perempuan memang  terkadang membingungkan. Ups!

Ngomong-ngomong soal perempuan, kemarin sore ketika pulang ke rumah, saya mendapati seorang sahabat sedang ada di rumah saya. Tidak kaget, sebab hal ini biasa terjadi: sahabat-sahabat saya senang sekali untuk menjadikan rumah saya sebagai rumah kedua dan menjadikan orangtua saya sebagai orangtua kedua. Alhamdulillah. Tabarakallah. Menariknya, saat itu sahabat saya terlihat sedang sangat sedih. Saya pun refleks berpikir, “Ini anak kenapa, ya?” tapi saya menahan diri untuk langsung bertanya karena saya tahu bukan itu yang sedang perlu saya lakukan. Lalu bagaimana?

a271c274102cad52165ba12c85085c77
Picture: Pinterest

Saya pun mengajaknya makan sambil ngobrol-ngobrol santai untuk mencairkan suasana. Setelah selesai, saya kemudian bertanya, “Gimana perasaan kamu hari ini?” Entah bagaimana, pertanyaan semacam ini seringkali memang membuat orang lain terdiam dan membahasakan perasaan lewat gestur, raut wajah atau bahkan air matanya. Tak terkecuali sahabat saya itu, ia menangis ketika saya menanyakannya. Lalu kemudian ia menjawab, “Aku belum bisa cerita, tapi sejujurnya ini berat banget buat aku. Doain aku ya beb, aku berharap Allah menunjukkan jalan-Nya tentang apa yang harus aku lakukan saat ini.” Oke, that’s a big sign that … bertanya “kamu kenapa” adalah hal yang sebisa mungkin jangan dilakukan, nanti dosa hehehe.

Kamu, terutama para perempuan yang sering berinteraksi dengan sahabat-sahabat perempuan, pasti pernah mengalami situasi serupa, bukan? Apa yang sebaiknya kita lakukan? Continue reading “Jangan Banyak Tanya, Sampaikan Saja Bahasa Cinta”