Heal Yourself Sudah Rilis!

Klik disini untuk pesan buku Heal Yourself dari Bandung dan disini untuk pemesanan dari Yogyakarta.

Salam kenal dari buku Heal Yourself, teman-teman! Alhamdulillah, akhirnya kabar ini bisa sampai kepada kalian. Terima kasih untuk dukungan, semangat, dan doa yg diam-diam dipanjatkan. InsyaAllah bulan ini bukunya rilis dan semoga bisa segera dinikmati oleh teman-teman.

Berbeda dgn buku-buku sebelumnya, buku yg menceritakan ttg bagaimana memeluk dan menyembuhkan luka ini menghadirkan banyak dinamika perasaan selama proses kreatifnya. Namun, rasanya baru di buku ini saya benar-benar merasa menjadi diri sendiri, semacam menunjukkan the true color of mine dan memperkenalkan sisi lain kehidupan saya yg selama ini tidak pernah diangkat dalam buku-buku sebelumnya.

Di buku ini, saya juga mencoba gaya menulis yang baru, yaitu menggabungkan antara kontemplasi, kajian ilmiah ttg psikologi, dan tentunya Islam, Alquran dan hadist dalam satu paket. Harapannya, saya tidak hanya menceritakan kontemplasi diri atau ilmu Psikologi, tapi juga mengajak diri dan pembaca utk memandang luka dari sudut pandang yg berbeda dan memulangkan setiap luka kepada tempat pulang yg sebenarnya.

Dalam kelas online @healyourself.id beberapa waktu lalu, saya mendapat pertanyaan unik, “Kenapa kita harus beli buku ini?” Lalu saya menjawab, karena semua orang pernah terluka atau bahkan masih merasakan lukanya hingga saat ini. Namun, tidak semua orang benar-benar mengetahui bagaimana harus mengobatinya. Buku ini insyaAllah mengajak kita semua utk bertemu dgn sebaik-baik penawarnya. Kamu, punya luka juga, kan? Continue reading “Heal Yourself Sudah Rilis!”

Advertisements

Selamat Hari Kesehatan Mental Dunia!

Luka lebih sering menjelma menjadi sesuatu yang tak bersuara, namun ia ada. Setiap orang punya luka, baik yang sudah selesai dan terlewati maupun yang masih ada, terbuka, dan mengalir darahnya. It’s okay! Hidup memang bukan zona nyaman yang isinya hanyalah bersenang-senang. Sebab, hidup adalah petualangan untuk menumbuhkan diri, pencarian akan hakikat dan makna yang paling sejati, dan perjalanan untuk membuktikan cinta dalam penghambaan kepada Ilahi Rabbi. Adapun luka yang ada, ia tak pernah dedesain-Nya untuk menyakiti atau mendzalimi jiwa seorang hamba. Sebaliknya, ia didesain sebagai mode-mode penyelamatan, bagi jiwa hamba-hamba yang merindukan keselamatan sebagai sebaik-baik bekal kepulangan. Bersama luka, ada maksud terbaik-Nya agar kita memulangkan segala kepada Dia yang segala maha.

10 Oktober 2019, selamat Hari Kesehatan Mental Dunia!

Terima kasih sudah menjadi bagian dari @healyourself.id dengan menjadi teman kami dalam berbagi, belajar, dan bercerita. Semoga Allah melapangkan siapapun yang sedang berjuang, menguatkan hati-hati yang mungkin sedang patah dan berantakan, serta menjaga kita dari melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Mohon maaf untuk segala kekurangan dan keterbatasan yang masih kami miliki. Doakan untuk senantiasa belajar dan berbekal. Baarakallahu fiik. Continue reading “Selamat Hari Kesehatan Mental Dunia!”

Maukah Kamu Menemaninya Berjuang?

Seseorang sedang duduk di balik jendela. Seluruh ruang ditutupnya rapat-rapat sebab ia tidak ingin satu sosok pun mengetahui keberadaannya. Tangisnya menggema dalam diam, menggaung tanpa kata-kata. Pikirnya berkelana pada berbagai kilasan masa ketika ia dilupakan, ditinggalkan, dilukai, juga dikhianati hingga ia merasa kehilangan dirinya sendiri.

Kamu tahu, nampaknya ia sedang benar-benar membutuhkan sosok teman yang berbesar hati mendengarkan, menyapa perasaan, menemani berjuang, dan membantunya mengurai benang-benang kusut dari dalam kepalanya yang berjuntaian. “Siapakah dia? Mendengarnya sekilas, mengapa aku begitu ingin memeluk dan duduk disampingnya seraya mendengar cerita-ceritanya?” Mungkin itu tanyamu dalam hati. Bukankah begitu?

Sekarang, berjalanlah ke arah cermin lalu pandangilah sesosok wajah yang ada disana. Pandanglah ia lekat-lekat, kamu akan mendapati seorang manusia yang, tanpa ia sadari, hati dan jiwanya istimewa sebab dirinya begitu berharga. Hanya saja, kabut-kabut luka membuat pandangannya kabur terhadap semua keistimewaan yang dimilikinya. Alih-alih merasa istimewa, ia sedang terkurung dan terkungkung oleh lukanya, beberapa bahkan tak ia mengerti sebabnya.

Siapakah dia? Sayang, kurasa kita sudah sama-sama tahu jawabannya. Maukah kamu menemaninya berjuang? Maukah kamu mendukungnya berdamai? Maukah kamu membuatnya percaya lagi bahwa Rabbnya sangat mencintainya? Continue reading “Maukah Kamu Menemaninya Berjuang?”

Heal Yourself: Untukmu yang Pernah Terluka

Salam kenal dari buku Heal Yourself, teman-teman! Alhamdulillah, akhirnya kabar ini bisa sampai kepada kalian. Terima kasih untuk dukungan, semangat, dan doa yang diam-diam dipanjatkan. InsyaAllah bulan ini bukunya rilis dan semoga bisa segera dinikmati oleh teman-teman.

Berbeda dengan buku-buku sebelumnya, buku yang menceritakan tentang bagaimana memeluk dan menyembuhkan luka ini menghadirkan banyak dinamika perasaan selama proses kreatifnya. Namun, rasanya baru di buku ini saya benar-benar merasa menjadi diri sendiri, semacam menunjukkan the true color of mine. Rasanya seperti memperkenalkan sisi lain kehidupan saya yang selama ini tidak pernah diangkat dalam buku-buku sebelumnya.

Di buku ini, saya juga mencoba gaya menulis yang baru, yaitu menggabungkan antara kontemplasi, kajian ilmiah tentang psikologi, dan tentunya Islam, Alquran dan hadist dalam satu paket. Harapannya, saya tidak hanya menceritakan kontemplasi diri atau ilmu Psikologi, tapi juga mengajak diri dan pembaca untuk memandang luka dari sudut pandang yang berbeda dan memulangkan setiap luka kepada tempat pulang yang sebenarnya. Continue reading “Heal Yourself: Untukmu yang Pernah Terluka”

Kenalan Lagi, Kenalan Terus

“What should I do to make it easier for me to understand others?”

“Understand yourself first.”

Rasanya, percakapan itu tidak asing, ya? Yup! Kamu mungkin sudah pernah mengetahuinya, saya juga. Namun, sesuatu yang sama jika dimaknai dalam konteks yang berbeda ternyata memang akan menyuguhkan insight yang berbeda pula. Seperti saat ini, ketika kalimat itu menjadi kepingan hikmah yang saya kantongi dari perjalanan belajar sepekan ke belakang. Berbagai diskusi dan analisa kasus membuat saya semakin menyadari, “Ternyata benar, sebelum menjadi psikolog, saya harus benar-benar memahami diri sendiri.” Aha!

Semua ini tentu saja masuk akal. Bagaimana bisa saya mengajak orang lain untuk memahami dirinya sendiri jika saya tidak lebih dulu memahami diri saya? Bagaimana caranya saya menasihati orang lain untuk mengelola emosinya dengan baik jika saya sendiri pun bahkan tidak kenal pada emosi-emosi yang saya miliki dan tidak tahu bagaimana cara mengelolanya? Bagaimana bisa saya mengantar orang lain untuk menemukan value hidupnya jika saya tidak pernah berpikir tentang value diri saya sendiri? Bagaimana bisa saya membantu orang lain di ranah ini jika saya tidak memahami diri atau justru masih menyimpan banyak kebingungan tentang diri saya sendiri?

Lucunya, berkali-kali saya merasa sudah memahami diri tapi berkali-kali pula asumsi itu terpatahkan sendiri oleh perjalanan-perjalanan yang terjadi berikutnya. Nyatanya, tidak pernah ada kata selesai dalam proses memahami diri: semakin merasa memahami, semakin ada sesuatu yang lain yang perlu dipahami. Maa syaa Allah. Continue reading “Kenalan Lagi, Kenalan Terus”

Yang Membantu, Yang Menunggu

Hari ini mengejutkan sekali, saya terlambat 30 menit untuk datang ke kelas. Ya, 30 menit! Padahal biasanya nyaris tak pernah terlambat. Apakah karena saya bangun kesiangan? Tidak. Saya berangkat di jam yang sama seperti biasanya, saya pun memprediksikan akan datang tepat waktu seperti biasanya. Namun, ternyata hari ini jalanan berubah jadi penuh misteri, sulit ditebak keramaiannya.

Setiap berhenti di lampu merah, saya melirik jam. Semakin lama semakin terlambat. Saya jadi cemas karena itu artinya ada semakin banyak pula yang akan saya lewatkan, padahal saya sangat excited dengan materi baru di hari ini: Psychological Report. Sesampainya di kelas, saya tidak ingin dosen menyadari keterlambatan saya. Namun ternyata, beliau langsung melihat dan berkata, “Sini, pindah ke depan.” Duh!

Entah apa yang sedang dibahas sebelumnya, yang jelas, ketika saya duduk, dosen saya mengatakan, “Anda terlambat 30 menit. Salah satu sikap profesional dari seorang psikolog adalah tepat waktu. Bagaimana perasaan klien anda jika anda yang dia harap akan membantunya, datang terlambat tanpa kabar?” Oh, rupanya sedang membahas sikap profesional seorang psikolog. Alih-alih menjawabnya, saya hanya mengangguk perlahan, masih kaget. Hehe.

Beliau kembali melanjutkan pembahasan, “Sebagai psikolog, kita ada untuk membantu orang lain. Kesiapsiagaan kita pun menjadi penting. Jadi, siapa yang seharusnya menunggu, psikolognya atau kliennya? Jelas psikolognya. Siap sebelum klien datang.” Kemudian beliau melirik saya lagi, “Siapa nama Anda?” Waduh kacaw~ “Novie, bu.” Lalu beliau melanjutkan, “Iya Novie, perhatikan sikap profesional, ya!” Saya mengangguk, mungkin pipi saya juga memerah saat itu.

Nila setitik rusak susu sebelanga? Kan terlambatnya sekali saja sebenarnya? Tidak juga. Di sisi lain justru saya senang, sebab saya seperti diajak untuk mengingat bahwa waktu memang bukan barang dagangan yang bisa ditawar.

Continue reading “Yang Membantu, Yang Menunggu”

Rasanya (Takut) Berkarya

Satu hal yang paling adiktif dari berkarya adalah berkelana di luar zona nyaman dan mengupayakan sesuatu yang berharga dalam ruang-ruang sunyi. Bagi saya yang terkadang tanpa sadar terkurung di zona nyaman, berkarya menjadi salah satu cara untuk melompat, menumbuhkan diri lewat hal-hal yang sebelumnya tak terlihat.

Secara sadar, saya tahu bahwa konsekuensi berkarya itu nyata: waktu tersita, lelah fisik dan pikiran, dan stress yang terkadang entah bagaimana harus menceritakannya. Tapi, secara sadar pula saya memilih untuk menyukai setiap prosesnya. Hidden treasure, begitulah saya menyebutnya. Tanpa sadar, hal ini membuat saya selalu penasaran pada proses di balik karya-karya hebat, seperti misalnya NKCTHI dan Kamu Terlalu Banyak Bercanda yang digarap oleh kak @marchellafp itu.

Kemarin, saya bertemu dengan kak Cecel saat bedah buku @ktbb.ktbb yang membuat saya bisa mendengar behind the scene karya terbarunya itu. Gemash! Dalam hati berkali-kali saya berkata, “Iya bangeeet! So related!” terutama ketika kak Cecel bilang kalau sebenarnya KTBB ini adalah karya yang paling memunculkan rasa takut untuk dipublikasikan. Yup, itulah yang juga saya rasakan saat ini!

Saat menggarap buku Heal Yourself: Untukmu yang Pernah Terluka, sempat ada ketakutan di dalam hati tentang apakah saya layak menuliskannya, apakah saya sudah benar-benar mengetahui apa yang saya tulis, apakah saya sudah siap bertanggungjawab atas apapun yang dituliskan disana, apakah saya tidak salah memilih sudut pandang, dst. Bahkan, saya sempat berpikir untuk menunda publikasinya sampai nanti saat saya sudah lulus magister profesi. Tapi saya berpikir lagi, bukankah ini adalah bagian dari zona tidak nyaman yang saya cari?

Akhirnya, saya mengatur strategi dan menerbangkan semua ketakutan dan itu kepada-Nya hingga ragu itu ada tapi biarlah ia mewarnai saja, tanpa harus menghentikan langkah berkarya. Sebagai salah satu upayanya, saya mengambil cara baru dalam melahirkan karya ini, yaitu melibatkan banyak reviewer dan beta reader untuk mengujicobakan sudut pandang. Dengan begitu, atas seizin-Nya saya merasa lebih percaya diri.

Bismillah. Untuk kalian semua, selamat menunggu kabar baik dari buku ini di bulan Oktober nanti, ya! InsyaAllah. Mohon doanya 🙂 Continue reading “Rasanya (Takut) Berkarya”

Proses di Balik Proses, Makna di Balik Makna

“If you feel like the most stupid person in the room, or you feel like you aren’t the smartest, you’re actually learning so much more than the smartest person in the room.”

Mendengar kalimat itu di vlog @maudyayunda saya merasa tenang. Mengapa? Belakangan, saya mengamati diri dan teman2 dalam situasi adaptasi di fase matrikulasi. Sesuatu sekali. Dari yg mengelola energi, sampai yg menata ekspektasi terhadap diri. Dari yg jetlag karena lelah fisik sampai lelah psikis karena “melompat” terlalu tinggi. Dari yg mencoba mengerti sampai yang bingung dgn kebingungannya sendiri.

Saya pun merasakan perasaan serupa di kelas-kelas analisa kasus. Seperti kata-kata di video Maudy tadi, saya merasa bodoh. Berulang kali saya membaca kasus yg ada, mencoba menganalisanya dgn berbagai pendekatan, mengerahkan segala kemampuan, juga berupaya utk mengakses ingatan di penyimpanan jangka panjang. Hasilnya? Saya tetap pusing, bingung dan heran. Hehe. Padahal, dulu saya paling excited kalau sudah berurusan dgn analisa kasus dan membedah masalah.

Meski begitu, saya sangat ingin belajar. Saya pun memberanikan diri menjawab pertanyaan, menganalisa, dan memberikan interpretasi meski saya ragu-ragu karena sadar minimnya ilmu. Tak hanya itu, dgn sadar saya bersedia utk belajar dari kesalahan jika apa yg saya lakukan salah. Lalu ternyata, benar saja saya salah. Hehe. Tapi setidaknya, keberanian itu membuat saya tahu dimana kesalahan logika berpikir yg saya miliki.

It’s okay, pelan-pelan! Kalau gagal coba lagi, kalau salah belajar lagi. Continue reading “Proses di Balik Proses, Makna di Balik Makna”

Jangan Sekolah Karena Masalah

Satu tahun lalu, saat kehidupan di kantor sedang riuh dgn masalah, saya bercerita kpd seorang sahabat, “Aku enggak sanggup lagi dgn kondisi stressful begini. Aku mau resign dan sekolah aja.” Bagai cerek yg airnya meluap keluar karena dididihkan, begitulah kondisi perasaan saya saat itu.

Lalu apa jawabnya? “No. Jangan sekolah hanya karena ingin lari dari masalah. Sekarang, kamu mau lari dari masalah kantor dgn sekolah. Nanti, kalau ada masalah di sekolah, mau lari kemana?” Diam-diam saya mengamini nasehat itu. Saya pun melanjutkan bekerja, melebur dgn problematika yg ada, sampai akhirnya tidak terpikir lagi utk melarikan diri dgn sekolah.

Satu tahun berlalu, akhirnya saya memutuskan utk kembali ke dunia akademis. Semua tanpa terburu-buru, sebab saya sudah tidak lagi memutuskannya karena ingin lari dari sesuatu. Alhamdulillah, ketika keputusan itu diambil, saya dalam kondisi tenang, bertujuan, dan siap dgn segala konsekuensinya.

Sekarang, saya sedang dalam masa-masa adaptasi. Rasanya? Subhanallah, berat! Fisik dituntut utk lebih kuat dari biasanya, karena setiap hari kelas dimulai sejak matahari baru naik sampai petang. Belum lagi materinya: teori, diagnosa, analisa, kasus, dst; semua memeras otak untuk bekerja lebih keras dari biasanya. Excited and tired at the same time! Nasehat seorang teman utk tidak menyerah dari awal jadi sangat masuk akal. Continue reading “Jangan Sekolah Karena Masalah”

Blog at WordPress.com.

Up ↑