Kita dan Semua yang Tergesa-gesa

Entah bagaimana, saat ini kita seperti sedang terjebak dalam hidup yang penuh ketergesaan. Tak terpikir apa yang menjadi permulaannya, kita menjadi serba tergesa-gesa dalam melakukan banyak hal.

IMG_20190123_081656_791.jpg

Pagi kita berlalu dengan tergesa-gesa: bangun kesiangan, bersiap dengan secepat kilat, lalu berkendara dengan kecepatan yang untung saja tidak sampai menyaingi kecepatan cahaya. Biar cepat sampai, katanya. Tak sempat lagi untuk mensyukuri satu hari lalu yang telah terlewati dan hari baru dengan kesempatan-kesempatan untuk menjadi baik lagi. Bismillahi tawakkaltu, itu pun luput dari kesadaran dan ingatan kita, sebab kita terlalu tergesa-gesa.

Siang hingga sore hari, kita juga banyak terges-gesa. Kita tergesa-gesa saat berbicara dengan orang lain: setiap kata keluar cepat seolah tanpa titik dan koma. Biar cepat selesai karena banyak yang harus ditunaikan, katanya. Lupalah sudah kita pada bicara dengan tenang, menurunkan frekuensi, membaca bahasa tubuh, mendengarkan perasaan, apalagi untuk memikirkan sudut pandang teman bicara. Tidak hanya itu, kita pun belajar, berkarya, bekerja atau melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tergesa-gesa, kita jadi lupa pada esensi tentang mengapa kita melakukannya.

Begitu pun dengan malam hari, kita melalui dan menutupnya dengan tergesa-gesa. Makan tergesa-gesa, seringnya meninggalkan sisa makanan; membalas pesan tergesa-gesa, seringnya tak paham apa yang menjadi esensi obrolan; membaca dan mengkaji sesuatu tergesa-gesa, seringnya melompat dari satu bahasan ke bahasan lainya; dan seterusnya, hingga tidur pun tergesa-gesa, bersama laptop yang masih menyala, kertas yang berserakan, ponsel yang selalu sengaja tidak dimatikan sebab takut tertinggal informasi (yang terkadang sebenarnya tidak) penting, dan shalat-shalat malam yang tertinggal. Alih-alih sibuk dalam produktivitas, aktivitas kita menjadi seperti tak jelas arahnya, hilang dari tujuannya.

Ada yang lebih parah, kita pun memaksa Allah dalam ketergesa-gesaan kita: ingin doa kita segera dikabulkan, jika tidak kita uring-uringan; ingin masalah kita segera diselesaikan, jika tidak kita galau berkepanjangan; ingin kondisi kita segera diganti dengan perubahan, jika tidak kita sibuk meracau tentang mengapa semua tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ada apa ini sebenarnya? Mengapa kita menjadi sedemikian tidak sopannya pada Dia yang menciptakan kita semua?

Tunggu! Bisakah kita berjeda dulu sebentar? Ada yang salah, ada yang perlu kita perbaiki. Coba tengok diri kita sendiri, tanyakan padanya mengapa sampai setergesa ini. Mungkin ada yang terlewat untuk dimengerti, luput untuk dipahami, atau terlupa untuk disadari. Atau bahkan, mungkin diam-diam hati kita sedang menolak apa-apa yang telah diatur dan teratur di dunia ini, sebab ia tak bersesuaian dengan kehendak diri. Entahlah, mari kita berdialog dengan diri sendiri dan bercerita kepada-Nya tentang apa yang sedang terjadi.

Advertisements

Mempersiapkan Perubahan Peran

“Salah satu hal tersulit yang dihadapi oleh seorang manusia adalah perubahan, baik perubahan di lingkungan, orang lain, maupun diri sendiri. Sebab, perubahan itu seringkali tidak disadari, juga tanpa persiapan. Segalanya seperti tiba-tiba saja terjadi, saat kita semua sibuk menjalani hari demi hari. Tidak ada yang tetap dan menetap. Waktu bergerak, benih bertumbuh, air mengalir, hidup bergulir layaknya segala sesuatu yang kita kenal: kebahagiaan, ketenangan, kegelisahan, keresahan, kekhawatiran dan perasaan-perasaan. Semuanya turut bertumbuh.” – Epilog dalam buku Bertumbuh

photo-1471342051519-9621d25323fc
Picture Source: Unsplash.com

Alhamdulillah, tahun telah berganti. Setelah hampir 1 tahun tidak bertemu, akhirnya kemarin (Sabtu, 19 Januari 2019), NuParents kumpul dan belajar bersama lagi. Yeay! Tabungan rindu yang disimpan sejak lama akhirnya lunas juga (meskipun selanjutnya tetap ingin ketemu dan belajar bareng terus sih, hehe). Membuka 2019 yang insyaAllah semangatnya sudah lebih baik lagi, NuParents menghadirkan seorang ibu yang luar biasa untuk menjadi narasumber, yaitu teh Karina Hakman. Beliau adalah seorang lulusan dari The University of Auckland di New Zeland yang kemudian melanjutkan lagi S2 di Monash University Australia. Tidak hanya itu, beliau juga merupakan founder dari Rabbani Home Schooling dan penulis buku Bumi Hijrah. Kesan pertama saya melihat teh Karin, rasa-rasanya beliau ini sangat keibuan dan peluk-able. Maa syaa Allah.

Apa yang NuParents bahas bersama teh Karin? Seperti quotes pembuka tulisan ini, kami berdiskusi tentang perubahan peran. Tema tersebut diambil mengingat sudah banyak perubahan peran yang terjadi di orang-orang yang ada di lingkaran pertemanan NuParents itu sendiri: yang asalnya sendiri sekarang menjadi isteri atau suami, yang asalnya menjadi isteri atau suami sekarang menjadi ibu atau ayah, yang asalnya orangtua dari satu anak sekarang sudah bertambah, dan yang asalnya sendiri dan tetap sendiri pun insyaAllah sudah bertumbuh iman dan kebijaksanaanya.

Sudah dari sananya bahwa perubahan peran adalah sebuah keniscayaan, meski mungkin tidak selalu bisa kita rencanakan. Begitu pun kaitannya dengan pernikahan dan pengasuhan, di dalamnya melibatkan banyak sekali perubahan, baik itu yang direncanakan atau pun tidak direncanakan. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi perubahan-perubahan itu? Continue reading “Mempersiapkan Perubahan Peran”

Belajar Bareng, Yuk!

Satu atau dua tahun yang lalu, entah bagaimana, saya pernah bertanya-tanya kepada Allah, “Ya Allah, kenapa sih ayah meninggal sebelum beliau sempat bilang sama aku tentang gimana seharusnya aku menjadi isteri dan ibu? Aku kan pengen dengar beliau itu gimana pesannya. Aku juga kan pengen tahu, lelaki seperti apa yang akan diizinkannya meminang aku sebagai anak perempuannya ini.” Qadarullah, semua obrolan itu memang tidak pernah terjadi. Awalnya, saya rasa Allah tidak adil. Di saat teman-teman lain mendapat nasehat pernikahan dari ayahnya, saya tidak. Lalu bagaimana?

Hari-hari berganti, tahun pun terlalui, ternyata Allah menunjukkan keadilan-Nya dengan cara yang lain. Alhamdulillah. Tabarakallahu. Dia mempertemukan saya dengan berbagai pembelajaran dan lingkaran pertemanan (termasuk juga pekerjaan) yang dari sanalah saya mendapat berbagai ilmu dan input tentang persiapan menikah dan mengasuh. Ilmu dan nasehat yang saya terima itu bagi saya tentu sangat inspiring dan insightful, tapi suatu ketika saya diam-diam pernah bertanya-tanya, “Emang kenapa sih kok sampai harus seserius ini?” Hayooo, kalau menurutmu, kenapa?

Allah memang Maha Mendidik, diperkenalkan-Nya saya dengan sebuah peringatan dalam Al-Qur’an, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” Begitulah Allah berfirman dalam QS. An-Nisa : 9. Allah katakan, hendaklah takut. Takut apa? Takut kalau kelak kita meninggal, kemudian kita meninggalkan anak-anak kita dalam keadaan lemah. Lemah apanya? Imannya, akhlaknya, fisiknya, ilmunya, kesejahteraan hidupnya, dan seterusnya. Oh noooo! Ayat inilah yang sampai saat ini jadi motivasi belajar saya.

Terus apa lagi? Kenapa sih menikah harus pakai ilmu? Hehe, panjang ceritanya. Enggak cukup di 1 caption Instagram. InsyaAllah saya akan cerita lebih banyak tentang ini di Kulwap Series Paranikah dari @kakatu.id yaaa. Di serial edukasi ini, insyaAllah akan hadir juga para guru dan senior yang akan membimbing kita. Yuk, belajar bareng! ❤

Monday Love Letter #25: Menjadi Pantas di Atas Kertas (?)

Assalamu’alaikum, sister of Deen! Ada yang berbeda di surat hari ini, saya dan teh Husna bergantian jadwal sehingga jadwal saya menulis surat adalah sore hari. Syahdu, saya menuliskannya ketika di Bandung hujan sedang turun cukup deras. Maa syaa Allah.  allahumma shoyyiban nafi’an. Sore ini, saya mau cerita sesuatu, semoga bisa sampai tepat di hatimu.

Sudah sejak lama, saya merasa nyaman untuk menjadi orang di balik layar di kantor. Alih-alih maju ke depan dan turun ke lapangan, ternyata saya merasa lebih optimal jika berada di belakang: meriset, mendiskusikan konsep, mengatur orang-orang, dan seterusnya. Ketika pimpinan bertanya kepada saya apakah saya ingin turun langsung berhadapan dengan orang-orang, saya bahkan sempat menjawab, “Tidak, pak. I’m not the right spoke person who are capable to talk in this field. Biarkan saya menjadi seperti koki yang fokus memasak di dapur, memikirkan bahan-bahan apa yang perlu ada supaya semua makanan terjamin kandungan gizinya, juga memastikan pengolahannya benar. Urusan bagaimana makanan itu kelak diantarkan pada pembelinya, silahkan itu menjadi urusan kalian yang maju ke depan.”

Right man behind the right job dan ingin belajar dulu di jalan sunyi, itulah yang awalnya saya pikirkan. Tapi kemudian, setelah beberapa waktu berselang, pimpinan dan teman-teman seperti mulai memberi saya ruang untuk keluar dari jalan sunyi dan mulai berhadapan dengan banyak orang. Saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, “Apakah sekarang sudah saatnya saya bergeser dari zona nyaman dan muncul ke permukaan?” Lama sekali saya mencari-cari jawaban atas pertanyaan itu sampai akhirnya sebuah diskusi mengubah semuanya.

“Nov, sekarang ini kita akan mengadakan program pendampingan untuk anak-anak yang kecanduan (games dan pornografi, maksudnya). Aku rasa, kamu orang yang tepat untuk ambil bagian dan turun ke lapangan. Assessment, penggalian masalah, penyusunan konsep penyelesaian masalah, dan seterusnya, aku rasa kamu bisa melakukannya. Gimana menurutmu?” Oh, saat itu pintu hati saya seperti sedang ‘diketuk’ perlahan sehingga saya perlu mengambil keputusan apakah akan membukanya atau tidak. Allah, bagaimana ini?

Setelah berpikir panjang, akhirnya usulan itu pun saya setujui meski saya masih berkecil hati. Kemudian, di hadapan pimpinan dan seorang teman di sebuah lingkaran pekerjaan, saya menyampaikan sesuatu yang menurut saya lebih dari perlu untuk disampaikan, “Kalian mungkin tahu kalau aku sering bicara di depan umum. Tapi, tema-tema yang aku bawa dan jenis-jenis audience yang biasanya aku hadapi itu beda banget sama program kita saat ini. I’m a newbie. Kalau langkah kalian sudah sampai 100, sekarang aku mungkin baru mulai langkah pertama. Sabar sabar ya sama aku, insyaAllah aku tetap mau belajar.” Lalu, meraka pun menanggapi dengan menenangkan, “Enggak Nov, kita semua sekarang mulai dari titik nol, kita belajar bareng-bareng.”

Hanya beberapa waktu berselang, konsep program pun sudah selesai kami rancang hingga tibalah saatnya kami untuk melakukan branding mengenai program tersebut. Pimpinan saya kemudian meminta sesuatu, “Nov, tolong siapkan CV dan short description tentang diri kamu, ya! Buat di proposal sama poster kegiatan. Intinya sih supaya orang percaya dan mau konseling sama kamu.” Waduh! Ini sederhana sih, tapi ternyata susah juga! Continue reading “Monday Love Letter #25: Menjadi Pantas di Atas Kertas (?)”

Sebelum Menikah dan Mengasuh …

Melihat teman-teman yang sudah menikah tapi masih semangat belajar, aku tentu tidak berharap pernikahan kelak menghentikan pembelajaran. Tapi, entah bagaimana, nasehat yang sama selalu datang berulang, “Manfaatkan waktu belajar dari sekarang. Kamu ingin belajar apa? Belajarlah. Nanti belum tentu waktumu selapang sekarang.” Saat ini aku mungkin belum sepenuhnya paham, tapi satu hal, yang kutahu harus ada ilmu sebelum amal.

Melihat teman-teman yang semangat belajar dan mengajar meski sedang punya amanah di dalam kandungan, aku tentu tidak berharap kehamilanku kelak payah sehingga tak lagi bisa belajar. Tapi, tanpa aku meminta, nasehat yang sama beberapa kali datang berulang, “Belajarlah dari sekarang tentang apapun yang nanti mungkin kamu butuhkan. Sekarang belajar sambil hati lapang kan, besok-besok beda cerita kalau belajar sambil panik dan emosian karena terlanjur kejadian.” Ah ya, belajar dengan tenang tentu tak sama dengan belajar sambil terkungkung emosi, panik dan sistem kebut semalam.

Melihat teman-teman yang memboyong anaknya ke majelis ilmu, aku tentu tidak berharap kelak mengasuh membuatku berjarak dengan ilmu. Tapi, seringkali tiba-tiba, nasehat yang sama datang berulang, “Maksimalkan belajar dan ibadah sejak sekarang. Mumpung belum ngerasain anak nangis ketika kamu mau shalat sunnah atau Qur’an disobek anak karena ingin baca juga. Mumpung me-time belum jadi sesuatu yang hanya angan.” Hmm, benar juga, sebab nanti sepanjang hariku mungkin memang bukan lagi milik diriku sendiri.

Aku bersepakat dengan semua nasehat orang-orang di sekitarku itu. Waktuku nanti rasanya memang belum tentu selapang sekarang. Kalau begitu, semoga sekarang ia tidak sembarangan kubuang-buang. Hey, bukankah butuh banyak amunisi ilmu (dan tentunya iman) untuk sebuah perjalanan ibadah yang panjang?

___

Sampai bertemu lagi, teman-teman! Semoga kita selalu bertukar nasehat dalam kebaikan ❤

Kita dan Sepuluh Tahun Sebelumnya

Ada yang tak sama lagi ketika tahun-tahun telah berganti. Bagaimana kita memandang diri sendiri, mendefinisikan perasaan-perasaan, mengartikan cinta dan keluarga, memaknai mimpi dan berjuang, mempersepsikan apa dan bagaimananya hidup yang semestinya, memilih sikap terhadap permasalahan, dan seterusnya, semua sudah berbeda. Ada berbagai masalah, ujian, kesalahpahaman, kegagalan atau bahkan kerumitan jangka panjang yang membentuk kita sedemikian rupa hingga kita menjejak makna dan menemukan hikmahnya.

Atas seizin-Nya kita bertumbuh dan mendewasa: pemikirannya, perasaannya dan pemaknaannya terhadap berbagai hal. Suatu ketika kita pun menertawakan diri sendiri, “Hahaha, ternyata yang dulu-dulu itu sebenarnya gitu doang, sih. Kenapa dulu rasanya serumit itu, ya?” Dari titik-titik itu, jika sekarang kita melihat jejak 10 tahun ke belakang, bukankah disana ada cerita tentang perubahan-perubahan menjadi lebih baik di sepanjangnya?

https67.media.tumblr.comf852e6fa1228710bb78c0e5a0f80dc92tumblr_o6dgslqwen1qmx9beo1_1280

Alih-alih mensyukurinya, sayangnya hari ini ruang jeda di dalam hati dan akal kita semakin lama semakin menyempit. Continue reading “Kita dan Sepuluh Tahun Sebelumnya”

Monday Love Letter #24: Tentang Kita, Tentang Diri Kita Sendiri

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh! Alhamdulillah, pagi yang baru di pekan ketiga Januari. Bagaimana kabar (iman)mu, sister? Jika ia naik dan turun, semoga naik dan turunnya itu senantiasa dalam keadaan naik, sebab begitulah hakikatnya belajar dan berupaya. Asal jangan naik dan turun dalam keadaan turun dan terus menurun hingga kita membiarkan diri dalam keadaan futur. Di surat ke-24 ini, saya ingin berbicara tentang kita, tentang diri kita sendiri.

Kemarin, saya bertemu dengan adik perempuan saya. Sebagai anak bungsu di keluarga, ternyata Allah menyediakan berbagai cara agar saya bisa menjadi seorang kakak, salah satunya adalah pertemuan dengannya. Usia kami tidak terpaut terlalu jauh, frekuensi keseharian pun kurang lebih sama. Obrolan-obrolan santai nan serius belakangan jadi semakin kami minati. Termasuk tentang diri yang membuat kami sama-sama memiliki sebuah refleksi.

Sudah berapa (puluh) tahun kita hidup dan membersamai diri kita sendiri? Sudahkah kita tahu siapa diri kita sebenarnya?

Ah, ya! Jika kita memperhatikan bagaimana orang-orang di sekitar kita menjalani kehidupannya, banyak diantara kita hidup dalam kegamangan. Tak usah jauh mencari orang lain, kita sendiri mungkin juga demikian. Berkali-kali melakukan protes terhadap ketetapan karena tak sadar peran. Menentang dan seolah-olah ingin berkompromi dengan apa yang sudah Allah tetapkan, juga karena tak sadar peran. Alhasil, dalam hati penuh dengan prasangka bahwa kitalah yang menjadi pusat atas segala ketentuan: gagal atau berhasil adalah karena diri, terwujudnya sesuatu yang diinginkan adalah karena upaya-upaya diri, lalu … baik dan sejahteranya hidup juga (katanya) adalah karena kehebatan diri. Kemudian, kita menjadi terlalu sibuk berfokus pada diri sendiri. Kesadaran kita akan adanya Allah yang Maha Menciptakan dan memegang semua kendali menjadi terkikis hingga habis tanpa kita sadari.

Apakah itu adalah kita? Seseorang yang beberapa waktu lalu tersujud dalam tangis sebab kecewa pada ketetapan Allah itu, apakah itu kita? Seseorang yang jumawa dan menganggap kedua tangannya itu mampu melakukan segala, apakah itu juga kita?

Berbicara tentang diri, ada sebuah ungkapan yang mahsyur yang mungkin pernah kamu dengar juga. Man arafa nafsahu arafa rabbahu, barangsiapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal tuhannya. Mendengarnya, bukankah ini menyedihkan? Jangankan mengenal Tuhan, kita bahkan tak kenal diri kita sendiri. Padahal, Continue reading “Monday Love Letter #24: Tentang Kita, Tentang Diri Kita Sendiri”

Monday Love Letter #23: Prasangka Tentang Bahagia

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, sister! Bagaimana satu minggu ke belakang berlalu di hari-harimu? Mungkin ada tangis yang jatuh meski sekuat hati kamu menahannya, tak mengapa. Mungkin ada marah yang tersulut meski hanya karena hal-hal kecil, tak mengapa. Mungkin perasaan lelah membisik-bisik ke telingamu dan memintamu segera merebah, tak mengapa. Mungkin juga ada beberapa kejadian yang membuatmu kalah atas dirimu sendiri, itu juga tak mengapa. Segala kelemahan itu membuat kita tersadar lagi bahwa kita manusia biasa yang sedemikian lemah dan tidak berdayanya jika tanpa bantuan dan kehendak-Nya, bukan? Tak mengapa, biar semua rasa itu hadir, asal ia tak membawamu kemana-mana selain berpulang kepada-Nya dalam selaksa doa-doa penuh taubat.

Akhir pekan lalu, saya merasa sedang tidak baik-baik saja. Sebab takut dengan diri sendiri dan tersadar pada sebuah kebutuhan untuk berlindung kepada Allah dari diri sendiri, saya kemudian berdoa di penghujung shalat Maghrib. Doa itu, seperti sudah bisa ditebak, membawa saya pada tangis yang panjang. Saya takut sekaligus sedih teringat pada betapa “kurang ajarnya” sikap saya kepada Allah. Di akhir doa itu, tiba-tiba saja saya teringat pada sebuah buku yang sempat saya beli beberapa bulan lalu tapi belum sempat saya baca. Di dalam hati, saya pun berkata, “Ya Allah, tolong ajari aku sesuatu dari buku itu sehingga aku memahami sesuatu dan memperbaiki sikapku, baik itu terhadap-Mu ataupun terhadap diriku sendiri.”

Saya pun bergegas mengambil buku yang dimaksud. Buku itu ditulis oleh Hanum dan Rangga, sepasang anak-menantu dari sosok Amien Rais. Judulnya adalah I’m Sarahza. Apakah kamu pernah membacanya? Buku itu mengisahkan tentang perjuangan Hanum dan Rangga dalam menanti buah hati yang telah ditunggunya selama sekitar 11 tahun dengan segala macam perjuangan yang pernah mereka lalui di sepanjang waktu itu. Maa syaa Allah, cerita yang sarat akan dinamika perasaan saat berjuang itu ternyata dapat menjadi hikmah bagi siapa saja. Tak terkecuali bagi saya yang merasa ada pesan Allah dalam cerita-cerita yang sedang saya baca.

Diantara banyak bagian cerita yang tertuliskan di buku berwarna biru dongker itu, ada secuplik yang menggelitik hati saya. Suatu hari, selepas kegagalan program bayi tabungnya, Hanum dan Rangga menerima kabar bahwa buku 99 Cahaya di Langit Eropa yang telah selesai ditulisnya menjadi buku best seller yang dibaca oleh banyak orang, termasuk juga oleh siswa-siswa di berbagai lini pendidikan. Penjualannya laku keras. Tak hanya itu, buku tersebut juga akan dijadikan film layar lebar dimana mereka diminta menjadi penulis skenarionya. Sebagai penulis, saya bisa memahami bahwa berita itu adalah berita menggembirakan, yang boleh jadi menjadi mimpi besar bagi para penulis lainnya. Tapi kala itu, kabar membahagiakan itu tak cukup bisa menukar kesedihan Hanum. Sounds familiar? Continue reading “Monday Love Letter #23: Prasangka Tentang Bahagia”

Marah dan Kegagalan Mengelola Lelah

Kamu pernah enggak sih tiba-tiba marah padahal sebelum-sebelumnya kamu enggak bisa atau enggak terbiasa marah? Biasanya sih ‘disenggol’ sedikit atau banyak juga kalem aja. Tapi, suatu ketika, hal yang biasa-biasa aja dan seharusnya tidak tendensius ternyata bisa bikin kamu marah bahkan sampai berteriak, sesuatu yang rasanya mustahil untuk kamu lakukan. Padahal, setelah dicek ke kalender, jadwal menstruasi juga ternyata masih lama. Waduh, kalau gitu berarti kenapa, ya?

Kalau pertanyaan-pertanyaan di atas kebanyakan bikin kamu ngangguk, berarti kita sama! Tos dulu, dong! Hehe. Jadi, di sekitar pertengahan sampai akhir bulan Desember lalu, jadwal hidup rasanya padat sekali. Dalam sehari, ada agenda-agenda offline dan online yang harus dipenuhi secara bergantian. Saya yang biasanya tidak pernah begadang, di hari-hari itu lebih banyak tidur tengah malam (atau bahkan lebih). Alhasil, waktu tidur yang berkurang itu membuat saya mudah lelah dan … jadi bisa marah. Seperti anak kecil yang tantrum ketika merasa ‘teritori’nya diganggu, saya bahkan bisa berteriak dan (tentu saja) menangis setelahnya. Saya sangat takut pada diri saya sendiri, what’s wrong?

Cat-Cat_Guide-A_tired_tabby_cat_resting_its_head_on_the_sofa
Picture from here.

Allah Maha Baik, tidak dibiarkan-Nya saya bertanya-tanya terlalu lama. Setelah kejadian itu selesai, malam harinya saya bertugas untuk memandu kelas online yang dibawakan oleh seorang psikolog bernama Asep Haerul Gani. Dari salah satu penjelasannya, beliau mengatakan,

“Dalam keadaan tubuh lelah, umumnya orang emosinya tidak nyaman, seperti kesal, mudah tersinggung, mudah terpicu dan mudah marah. Virginia Satir mengaitkan kelelahan ini sebagai hal yang menyebabkan seseorang dalam harga diri rendah. Penting bagi Anda untuk tahu diri saat lelah ini perlu waktu untuk re-charge energi, misal dengan diam sejenak di kamar, mandi, minum atau makan. Cepat capek-lelah-marah belum tentu karena innerchild, tapi lebih karena Anda belum belajar mengelola diri saat lelah.”

Continue reading “Marah dan Kegagalan Mengelola Lelah”

2018, A Year in Review

Ternyata, diantara kurikulum yang disediakan-Nya untukku agar aku belajar tentang rasa sakit dan kehilangan adalah episode-episode di awal lalu, saat aku diizinkan-Nya merasa bagaimana rasanya kehilangan diriku sendiri. Tanpa sadar, aku pernah terlena pada rasa putus asa, lalu menganggap mimpi-mimpiku seharusnya tak lagi ada. Awalnya, aku sedikit pun tak merasa ada yang berbeda, hingga suatu hari aku tersadar akan adanya satu sisi di dalam diriku yang sepertinya aku belum pernah mengenalnya. Siapa dia? Mengapa sikapnya tak ada dalam skema yang kupunya?

Kemudian, dari kejauhan aku memerhatikan bagaimana dinamika kehidupan orang lain berjalan sedemikian rupa. Mereka satu demi satu mendekati mimpi di garis takdirnya. Aku tersenyum, ikut bersyukur. Tapi, tak jarang hal itu membuatku kembali bertanya, “Tidakkah kamu ingin kembali memeluk asamu lalu berjalan dengannya melewati berbagai penjuru takdir dan mempelajari apapun yang telah disediakan-Nya? Tidakkah kamu ingin mengupayakannya agar ia juga menjadi sarana pelaksanaan amanah-amanahmu di dunia?” Aku diam saja, tak punya jawaban apa-apa.

Diantara kebingungan yang ada, aku lalu bertanya pada-Nya tentang apa yang sebaiknya aku lakukan; tanya yang sempurna sebab aku sungguh tak memiliki imajinasi apa-apa tentang jawabannya. Kukatakan pada-Nya, aku tidak ingin kehilangan diriku sendiri, juga tak ingin kehilangan-Nya yang Maha Memiliki segala kendali. Kutunggu doa itu dijawab-Nya sambil melangkah pada jalan-jalan yang ada di depan mata seraya berulang kali merapal doa yang sama.

Tanya itu terjawab lewat cerita tak terduga. Aku seolah diseret untuk lebih memahami-Nya, hingga aku tahu bahwa tak ada satu hal terbaik yang bisa aku lakukan selain mensyukuri jalan hidup yang telah dipilihkan-Nya. Tak hanya itu, dengan mudahnya pula hadir satu cerita yang mempertemukan aku dengan diriku sendiri lewat sesuatu yang tak pernah kukira hingga aku dibuatnya berani berupaya, meski lebih banyak gagalnya, hingga atas seizin-Nya sampailah aku di negeri dua benua dan menemukan banyak hikmah disana.

Atas seizin-Nya, aku menemukan seutuhnya diriku lagi. Semoga Allah senantiasa mendidik dan membimbing, setiap hari, tanpa kecuali.